Buku ini merupakan hasil nyata dari penelitian yang dilakukan secara berkelanjutan. Ide awal bermula dari pidato pengukuran guru besar Prof. Dr. Muslimin Ibrahim, M.Pd. tahun 2001 yang berjudul Dimensi Pendidikan Di dalam Model-model Biologi. Melalui penelitian inovatif Nasional tahun 2008-2009 ide tersebut diwujudkan dengan mengembangkan model pembelajaran pemaknaan. Fokus model ini adalah men…
Indeks: hlm. 220-222 Biografi Bibliografi: hlm. 214-218
Ada dosa yang menghancurkan kebaikan dan menyebabkan pelakunya menjadi lupa kepada ilmu yang sudah diketahuinya. Ada juga dosa yang menyebabkan pelakunya tidak pernah bisa mendirikan salat malam, dan menyebabkan tertahannya rezeki yang sudah dipersiapkan Allah kepada seseorang. Yang kita butuhkan adalah kejujuran terhadap diri sendiri, keberanian untuk mengakui kekeliruan kita. Kendati Tuhan be…
Untuk mengatasi kelemahan muatan nilai dalam PAL, pemerintah telah memberikan peluang yang cukup luas bagi guru untuk mengurai muatan dan proses pembelajaran PAI melalui Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Melalui KTSP ini kegiatan belajar mengajar PAI perlu dipikirkan kembali, dirancang ulang, dan dilakukan analisis kebutuhan berdasarkan tuntutan yang berkembang. Dasar pengembangan keg…
Proses mengajar tidak mungkin dapat mencapai hasil yang diharapkan tanpa disertai dengan proses belajar yang memadai, yang seimbang. Bagaimana cara menggiatkan proses belajar itu sehingga mencapai tingkat yang memadai? Pertama, tentu saja, pengajar harus menciptakan suasananya, yang terdiri atas berbagai komponen. Kemudian tersedia berbagai metode mengajar. Se muanya memerlukan persiapan, la…
Kedudukan pendidikan agama dalam pendidikan nasional telah dikuatkan dalam UU No 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 33 ayat 2 menjelaskan bahwa "kurikulum pendidikan dasar dan menengah wajib memuat antara lain pendidikan agama'". Artinya pendidikan agama merupakan bagian integral dari pendidikan nasional. Menurut Riley "pendidikan agama merupakan pengajaran tentang keyakinan…
Perintah "membaca" hakikatnya tidak saja untuk hal-hal yang bersifat Bahiriyah, tetapi juga ruhiyah. Artinya, membaca apa saja, baik tertulis wahyu qauliyyah atau Alquran dan Hacils) maupun tidak tertulis (wahyu kauniyyah atau alam semesta). Memahami orang lain untuk hal-hal yang sifatnya psikologis pun termasuk "membaca", di mana tingkat Kesulitannya justru jauh lebih tinggi ketimbang membaca …