Buku
Masyarakat religius
Indeks: hlm. 231-235
Setiap manusia memiliki naluri religiusitas -naluri untuk berkepercayaan. Naluri itu muncul bersamaan dengan hasrat memperoleh kejelasan tentang hidup dan alam raya yang menjadi lingkungan hidup itu sendiri.
Karena itu setiap manusia -dalam lingkup yang lebih besar: masyarakat- pasti memiliki keinsyafan tentang apa yang dianggap "makna hidup". Secara antropologis-kultural, makna hidup itu seringkali teraktualisasikan dalam berbagai legenda, dongeng, dan mitologi itu cenderung semu, maka fungsi dan kegunaannya pun bersifat sementara, tidak hakiki.
Buku ini menyodorkań tesis bahwa makna hidup yang hakiki dan sejati itu ada. Agama sebagai sistem keyakinan menyediakan konsep tentang hakikat dan makna hidup itu -tetapi ia tidak terdapat pada segi-segi formal atau bentuk lahirlah keagamaan. la berada di baliknya. Karena itu formalitas harus "ditembus", batas-batas lahiriah harus "diseberangi". Kemampuan melampaui segi-segi itu (niscaya) akan berdampak pada tumbuhnya sikap sikap religius -individu maupun masyarakat- yang lebih sejalan dengan makua dan maksud hakiki ajaran agama.
Tidak tersedia versi lain