Text
Nabi-nabi nusantara: kisah Lia Eden dan lainnya
Membaca buku karya Prof ATMakin ini seperti menyaksikan spektrum kekayaan warna-warni spiritualitas, bukan hanya keagamaan, di nusantara. Kisah kenabian yang diulas merefleksikan dinamika pencarian spiritual yang tidak saja transenden, tetapi juga imanen, bagi jiwa-jiwa di nusantara ini. Di ujung refleksi, buku ini membuka mata akan hakikat keberagaman dalam mencari dan memahami ketuhanan. Buku ini bukan hanya layak, tapi wajib dibaca oleh mereka yang mau
membuka hati dan pikirannya bertualang secara spiritual dengan nalar. (Yanuar Nugroho, Ph.D, Honorary Research Fellow, University of Manchester, UK, Deputi Kepala Staf Kepresidenan bidang Sosial, Ekologi dan Budaya di Kantor Staf Presiden RI)
Buku Mas Makin tentang Nabi-Nabi Nusantara tidak hanya menceritakan para pendaku nabi di Indonesia tetapi juga menyangkut isu-isu lain yang krusial seperti relasi agama dan negara, keragaman, dan bagaimana dinamika kelompok minoritas di tengah-tengah masyarakat Muslim yang berdemokrasi. Yang menarik lagi fokus buku ini adalah Lia Eden, perempuan seniman yang menerima pesan-pesan gaib, Maka, persoalan gender relevan dalam pembahasannya, bahwa para pemimpin Gerakan Agama Baru tidak semuanya laki-laki, dan terbukti perempuan juga
memimpin gerakan spiritual alternatif. Layak dibaca! (Dr. Siti Ruhaini Dzuhayatin, Staf Khusus Presiden tentang Isu Keagamaan Internasional)
"Penelitian tentang fenomena kenabian di wilayah nusantara masih merupakan kawasan "perawan" yang belum banyak disentuh para sarjana, baik Indonesia maupun asing. Prof. Al Makın adalah salah seorang pelopor yang bisa disebut melakukan "babat alas", membuka kawasan penelitian yang masih berupa semak belukar dan jarang tersentuh ini. Dalam buku ini, tampak sekali keseriusan Prof. Al Makin dalam menelaah tema ini dengan standard kesarjanaan tingkat dunia. Wa favga kulli syai, kajian yang dilakukan Prof. Al Makin ini tidak saja bernilai secara akademis saja, melainkan juga punya "faidah publik" yang tak kalah penting, yaitu membantu masyatakat non-akademis untuk memahami gejala kenabian di nusantara, sehingga mereka, semoga saja, bisa melihat isu ini dengan lebih seimbang, tak sekedar terjebak dalam cara pandang biner "benar-sesat" yang kurang sehat dalam kerangka membangun masyarakat dengan kesadaran muktikultural dan multi-konfessional yang mendalam. Salah satu proses penting ke arah konsolidasi demokrasi di Indonesia mensyaratkan pula konsolidasi nilai dan kesadaran di tengah-tengah publik, utamanya kesadaran multikulturalisme dan multi-konfessionalisme, kesadaran tentang pentingnya menghormati segala bentuk ekspresi kepercayaan dan keyakinan yang berbagai-bagai." (Ulil Abshar Abdalla, pengampu Ngajfdhya' Online)
Tidak tersedia versi lain